Belum lama ini, sebuah cuplikan video yang ada dalam sebuah program dari salah satu stasiun televisi nasional sempat viral di media sosial karena dinilai melecehkan dan merendahkan martabat kiai serta pesantren dengan narasi yang kurang pantas disiarkan oleh televisi nasional. Hal ini memberikan pandangan bahwa kedisiplinan dianggap penindasan, penghormatan sebagai feodalisme dan pengabdian sebagai perbudakan dengan mengacu pada kacamata yang sempit.

Dalam video yang beredar, bukan hanya sekedar mengkritik, bahkan sampai menghina salah satu masyayikh pondok pesantren yang ada di Kediri. dan secara tidak langsung, juga mengandung pelecehan pada semua kiai dan santri, apalagi beliau merupakan salah satu kiai sepuh di Indonesia. Tayangan tersebut membuat warganet geram karena dinilai melecehkan kiai, santri dan pondok pesantren. Dikarenakan hanya menyoroti kehidupan pesantren secara sepihak.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menanggapi hal yang telah terjadi? Apakah mereka sekadar mencari perhatian masyarakat, atau memang belum memahami hak seorang kiai atau guru serta kedudukan seorang murid?

Seandainya mereka mengetahui betapa mulianya orang yang memiliki ilmu, tentu mereka tidak akan berani merendahkannya. Ilmu bukanlah sesuatu yang murah, ia mahal dan agung karena menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju kebenaran. Hal ini pernah disinggung oleh Sayyidina Ali “Aku siap menjadi budak bagi orang yang mengajariku meskipun satu huruf”. Hal ini mengindikasikan bahwa begitu mahalnya ilmu dari seorang guru, sehingga apapun yang dilakukan seorang murid pasti tidak akan sepadan.

Mengenai kemulian orang yang memiliki ilmu, Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an bahwa malaikat diperintahkan untuk sujud kepada nabi Adam dikarenakan beliau memiliki ilmunya Allah, dalam ayatnya berbunyi:

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا
Allah mengajarkan kepada nabi Adam seluruh nama-Nya”

Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa, manusia menjadi makhluk yang paling sempurna  diantara ciptaan Allah karena dianugerahi akal untuk memahami ilmu. Dengan ilmu inilah manusia menjadi makhluk yang istimewa di sisi Allah dan dengan akal itulah manusia mampu membedakan antara yang baik dan buruk.

Untuk memperoleh ilmu yang dimuliakan oleh Allah, kita juga dituntut untuk memuliakan ilmu itu sendiri serta orang yang memilikinya. Sebab, kemuliaan ilmu akan tampak ketika kita menjaganya dengan adab dan etika yang baik. Etika inilah yang menjadi jembatan antara ilmu dan keberkahan. Tanpa adab, ilmu kehilangan cahayanya, namun dengan adab, ilmu akan mengantarkan kita kepada kemuliaan di sisi Allah.

Seperti kisah yang diambil dari kitab Ta’liimul muta’allim bahwa ada seorang Ulama besar di tanah Bukhara duduk ketika hendak mengajar, tapi di tengah-tengah mengajar Beliau berdiri, lalu di tanya oleh muridnya “Mengapa engkau berdiri wahai guru?” Beliau pun menjawab ”saya sedang melihat anak dari guru saya sedang bermain”. Kisah ini merupakan salah satu contoh dari beberapa etika yang layak kepada sang guru, seperti para santri yang ngesot saat sowan dihadapan kiainya.

Syekh Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliki  juga menyinggung pentingnya belajar dan mengabdi pada sang guru, beliau berkata :


اَلْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْحِكْمَةِ، وَنَفْعُهُ بِرِضَا الشَّيْخِ

“Ilmu diperoleh dengan belajar, keberkahan didapat dengan hikmah, dan manfaatnya diperoleh dengan rida (kerelaan) guru.”

Sehingga sangat pantas bagi seorang murid untuk mengabdi kepada gurunya, dan tentunya hal ini tidak dapat dianggap sebagai budak seperti yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Di sisi lain, tidak pantas bagi kita untuk menilai buruk orang yang berada di atas kita, terlebih para guru yang telah mencurahkan hidupnya untuk mendidik dan membimbing kita.

Inti dari artikel ini adalah hati-hati dalam berbicara, Ucapan terkadang lebih menyakitkan daripada anak panah. Ada sebuah sya’ir berbunyi “Andai 1000 panah mengenaiku, aku tidak apa-apa. Tapi ketika kau telah melukai hati, kapanpun hati tetap terluka dan selalu mengingatnya” anak panah hanya akan  melukai fisik, dan luka itu masih bisa di obati, berbeda halnya dengan ucapan yang sudah menusuk hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *