Belakangan terakhir, negeri kita Indonesia, seringkali diguncangkan dengan berbagai berita, mulai dari maraknya judol, keresahan beberapa masyarakat terkait isu tawuran antara oknum perguruan silat yang dipelopori oleh fanatisme, fenomena sound horeg yang terdapat pro dan kontra dikalangan masyarakat sendiri, aksi anarkisme warga yang menuntut keadilan dan masih banyak lagi.

Dalam catatan sejarah, Indonesia dulunya adalah pusat dari banyak peradaban di Nusantara ini, Mengapa dibilang sebagai pusat peradaban? sejarah mencatat bahwa, di Indonesia, dulunya kerajaan-kerajaan berpengaruh pernah berdaulat, seperti Majapahit, kerajaan Panjalu yang biasa di sebut kerajaan kediri, kemudian Singosari, Mataram dan lain-lain. Selain itu, dari segi ilmu pengetahuan, Indonesia juga bisa dibilang wadahnya, dimana banyak sekali lembaga pendidikan yang dapat berkembang dengan baik di Indonesia, baik berupa pendidikan berbasis formal ataupun berbasis nonformal seperti pesantren salaf. Lembaga-lembaga tersebut telah berhasil menelurkan ribuan tokoh-tokoh Nasional atau bahkan Internasional, yang telah banyak berkontribusi dalam pergerakan bangsa ini.

Tapi mengapa semakin kesini, Negeri ini semakin menampakkan kemerosotan moral dan SDM para penerus bangsanya? Tidak dapat di pungkiri bahwa, hal-hal demikian merupakan tanda-tanda akhir zaman, yang ditandai dengan banyaknya bentuk-bentuk kemungkaran yang telah dinormalisasikan, hilangnya minat belajar anak muda, ditambahi dengan gugurnya para tokoh-tokoh pendidik seperti Kiai ataupun tenaga pengajar lainya, yang mana hal ini menjadi bukti nyata dicabutnya ilmu dari dunia yang menjadi tanda-tanda hari kiamat yang telah disabdakan oleh Nabi. selain itu , sekitar 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad SAW telah menandaskan dalam sabda beliau :

مَا مِنْ يَوْمٍ اِلَّا وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

“Tidak ada suatu hari, kecuali dimana hari setelahnya itu pasti lebih buruk dari hari sebelumnya”

Ketika kita mencoba refleksikan sejenak, mari kita kembali kedalam sejarah Andalusia, dimana Andalusia adalah suatu nama yang tidaklah asing dalam benak para Santri. Terutama, karena di sanalah Ulama pengarang Nadzom Alfiyyah ibn Malik yang sangat fenomenal itu dilahirkan.

Al-Andalus, yang saat ini bertransisi menjadi Andalucia yang terletak di Spanyol, mencatat masa kejayaan umat Islam dan para ulamanya selama hampir 800 tahun yang dikenal dengan istilah “Islamic Golden Age”. Telah menjadi sunatullah bahwa sebuah bangsa yang kuat akan menjadi lemah karena ditaklukkan oleh bangsa lainnya, begitu juga dengan kebesaran masa Islam di Andalusia. Di sisi lain, kelemahan  negara islam umumnya disebabkan oleh banyaknya kemaksiatan, pengkhianatan, dan rendahnya nilai-nilai moral dan spiritual. Hal ini yang menjadi penyebab berkurangnya keberkahan dan melemahkan kekuatan sebuah negeri.  

Dalam sejarahnya, Andalusia telah melahirkan sejumlah cendikiawan, ulama, pejuang dan orang-orang saleh. Para ulama ini tersebar di Toledo, Zaragoza, Malaga, Qurtuba, Granada dan banyak daerah lainnya. Di antara ulama-ulama ternama asal Andalusia adalah Ibnu Rusyd (Averroes) Seorang filsuf, dokter, dan ahli hukum Islam yang terkenal dengan pemikirannya yang sangat berpengaruh dalam bidang filsafat dan pemikiran Barat, Ibnu Sina (Avicenna) Meskipun bukan asli Andalusia, Ibnu Sina adalah tokoh penting yang karyanya banyak dipelajari dan dikembangkan di Andalusia, terutama dalam bidang kedokteran dan filsafat, Ibnu Al-Arabi juga salah seorang sufi dan filsuf yang pemikirannya sangat berpengaruh dalam dunia tasawuf, dan masih banyak lagi seperti Ibnu Khaldun Al-Zarqali seorang Astronom dan Matematikawan yang terkenal dalam penemuan dan karyanya dalam bidang Astronomi dan masih banyak lagi.

Lalu apa yang menyebabkan Andalusia kini menjadi suatu daerah yang dulunya menjadi pusat peradaban islam kini hilang jejak-jejak keislamannya?. Ada beberapa faktor yang mempelopori kemunduran Andalusia, diantaranya adalah perpecahan internal Setelah kejayaan Dinasti Umayyah (umayyad Caliphate), Andalusia terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil yang sering berperang satu sama lain yang dapat melemahkan persatuan umat Islam secara keseluruhan. 

Kemunduran moral dan spiritual ini, Seiring waktu, menjadikan sebagian penguasa dan masyarakat Andalusia terjerumus dalam kemewahan dan kehidupan duniawi, melupakan nilai-nilai agama dan semangat jihad, serta kurang memperhatikan pertahanan negara. Hilangnya peran ulama sebagai penasihat dan pembimbing umat Islam juga termasuk faktor yang menjadi dampak lemahnya pemahaman agama dan moralitas masyarakat. Demikan juga dengan Negeri kita tercinta, apabila bentuk-bentuk lunturnya moral terus dibiarkan, maka kita mungkin juga akan memetik buah Yang sama seperti Andalusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *