Ratusan tahun sudah, pesantren menjadi media untuk memperbaiki pribadi yang jauh dari radar syariat Baginda Nabi SAW, menuju pribadi yang lebih mengerti apa yang kelak patut menjadi bekal saat mati. Bahkan pada zaman sekarang yang serba modernisasi ini, pesantren mungkin satu-satunya tempat yang patut menjadi media untuk menyelamatkan diri dari krisis akhlak yang pernah diajarkan Nabi.


Mengapa demikian? Karena hidup di era yang sudah ugal-ugalan, yang menjadi penyebab akhlak manusia tidak karuan—brutal—sudah selayaknya umat manusia mencari solusi untuk menata diri yang lebih islami. Dan sekali lagi dikatakan, “Pesantren adalah tempat yang sangat mumpuni untuk memperbaiki pribadi dengan cara mengaji.”


Hal yang secara tidak langsung menjadi nuansa khusus yang begitu melekat pada pesantren adalah kesederhanaannya dalam menjalani hidup yang penuh drama. Karena tidak bisa dipungkiri, kesederhanaan adalah bentuk dari menerima ketetapan tanpa merasa kekurangan. Guru kami selalu mengatakan:


القناعة نصف السعادة
Artinya:menerima segala apa yang ada merupakan bagian dari bentuk kenyamanan.


Maka tidak heran, kami yang kini menyandang predikat santri sudah merasa nyaman hidup dengan gaya kesederhanaan, di era gempuran pamer harta warisan.Perlu diketahui bahwa tidak semua kebahagiaan butuh kemewahan,dan tidak semua kesuksesan harus terlihat megah,bahkan tidak sedikit sesuatu yg di megah akan membawa kita ke jalan yang jauh dari tuhan, hal ini selaras dengan yang di sampaikan salah satu ulama yakni:


يسلم العاقل من عظام النوب والعيوب بالقناعة ومحاسبة النفس

Artinya:keselamatan seseorang dari dosa besar dan semua kecacatan adalah dengan sikap sederhana (menerima) dan terus instrospeksi diri


Dan masih banyak hal menarik yang lekat pekat dengan ajaran Nabi, yang lebih patut dijadikan kompas menuju surga ketimbang standar TikTok yang kian tidak masuk logika.


Standarisasi yang dibangun oleh influencer tiktok ini menjadi salah satu bukti bahwa hidup glamor bisa membawa penikmatnya tidak selamat, karena memang banyak video yang menggiring penonton untuk hidup dengan gaya glamor. Kenyataannya, tidak sedikit penonton yang menghalalkan segala cara untuk hidup dengan gaya demikian. Maka, pesantren dengan kesederhanaannya sangatlah relevan untuk zaman yang serba gengsian.


Tapi sayangnya belakangan ini muncul opini-opini miring yang menyudutkan pesantren sebagai lembaga tradisional kolot,bahkan dicap sebagai sistem feodal berkedok agama. Tuduhan-tuduhan ini kerap datang dari mereka yang belum memahami esensi pesantren secara utuh. Akibatnya, sebagian masyarakat tergiring pada pandangan negatif dan kehilangan kepercayaan.

Namun, pesantren tidak tinggal diam. Ia memberikan bukti nyata bahwa metode pendidikan berbasis akhlakul karimah mampu melawan arus radikalisme dan kekacauan moral yang kini makin membabi buta. Hal ini agar masyarakat semakin menyadari bahwa kontribusi pesantren sangat penting untuk menuntun jiwa-jiwa yang kehilangan arah.


Dengan demikian, pesantren tetap menjadi tempat ternyaman dalam membentuk peradaban dan akhlak mulia, dengan basis kesederhanaan, meskipun diliputi berbagai gunjingan dan goncangan.

oleh : Setiadi_Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *