
Masyarakat Jawa dikenal memiliki banyak tradisi yang kaya akan nilai-nilai budaya dan filosofis. Tradisi-tradisi ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian.
Sedangkan weton adalah hari kelahiran seseorang dalam penanggalan Jawa, yang merupakan kombinasi antara hari dalam satu minggu dan hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Masyarakat Jawa memperingati weton setiap 35 hari sekali. Dalam praktiknya, masyarakat Jawa sering memperingati wetonnya sendiri, hingga weton anaknya dengan cara berpuasa.
Namun, muncul pertanyaan penting dari sisi keislaman: Apakah puasa weton memiliki dasar dalam ajaran Islam? Apakah ia termasuk ibadah yang dianjurkan, diperbolehkan, atau justru perlu ditinggalkan?
Latar Belakang Budaya
Masuknya Islam ke Nusantara, khususnya di tanah Jawa, tidak terjadi secara frontal atau memaksa. Islam disebarkan melalui pendekatan budaya dan akhlak, terutama oleh para ulama dan wali seperti Wali Songo. Mereka tidak serta-merta menolak atau menghapus tradisi lokal, tetapi mengakomodasi nilai-nilai kebaikan di dalamnya, lalu mengarahkan agar sejalan dengan ajaran Islam.
Tradisi puasa weton contohnya, Tradisi tersebut sebelumnya memang sudah dikenal oleh masyarakat sebagai bagian dari laku tirakat, yaitu bentuk latihan spiritual yang bertujuan untuk menahan hawa nafsu, membersihkan diri, dan memohon keselamatan dari kekuatan gaib atau leluhur.
Dalam konteks ini, puasa weton mengalami Islamisasi seperti doa-doa Jawa yang terkandung di dalamnya diganti dengan doa secara Islam dan niat puasa yang sebelumnya hanya untuk tirakat dialihkan menjadi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Artinya, puasa weton yang dulu mungkin berbasis pada unsur mistik atau kepercayaan leluhur, diubah substansinya menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah.
Tinjauan Normatif dari Islam
Lantas bagaimana kedudukan tradisi tersebut menurut syariat Islam? Nabi Muhammad sendiri diketahui menjalani puasa di hari Senin. Lalu dengan landasan apa beliau menjalaninya? Dalam hadis kitab shahih Muslim, disebutkan bahwasanya :
عَنْ أبِي قَتادَةَ الأنْصارِيِّ، أنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ َّالِاثْنَيْنِ؟ فَقالَ: «فِيهِ وُلِدْتُ وفِيهِ أُنْزِلَ عَلَي
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Qatadah Al-ansari, bahwa Rasulullah dimintai keterangan terkait puasa hari Senin, beliau menjawab, di hari Senin aku dilahirkan dan di hari itu pula aku menerima wahyu.
Selain hadis, para ulama juga turut berpendapat mengenai perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Dalam kitab Hasyiyah asy-Syarwani disebutkan :
حاشية الشرواني ج 7 ص 423*
في فتاوى الحافظ السيوطي في باب الوليمة سئل عن عمل ( فائدة )
المولد النبوي في شهر ربيع الاول ما حكمه من حيث الشرع وهل هو حمود أو مذموم وهل يثاب فاعله أو لا قال والجواب عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى اللّٰه عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة علي ذلك من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى اللّٰه عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف
Dalam fatwa-fatwa al-Hafizh as-Suyuthi, pada bab al-Wiladah (kelahiran), beliau ditanya tentang amal memperingati Maulid Nabi di bulan Rabiul Awal: apakah hukumnya secara syariat? Apakah termasuk amal terpuji atau tidak? Dan apakah pelakunya diberi pahala atau tidak?
Beliau menjawab:
“Menurutku, asal dari amalan Maulid adalah berkumpulnya orang-orang untuk membaca sebagian dari ayat-ayat al-Qur’an, menyampaikan kisah kelahiran Nabi, lalu memberi makan kepada orang-orang, dan tidak keluar dari hal itu kecuali hal-hal baik. Maka hal itu adalah bid’ah hasanah (inovasi baik), karena ia memiliki dasar umum dalam syariat.”
Di luar itu, Nabi Muhammad dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan juga melakukan puasa Asy Syura sebagai rasa syukur atas kemenangan Nabi Musa:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
(Shahih Bukhari hadis No.2002 Bab Kitab as-Shoum)
Hadis diatas menjelaskan ketika Nabi Muhammad datang ke Kota Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari asy syura, kemudian beliau menanyakan alasannya. Para kaum Yahudi menjawab alasan mereka melakukannya ialah sebagai rasa syukur karena Nabi Musa telah mendapatkan kemenangan atas Firaun. Nabi lantas merasa beliau lebih berhak atas Nabi Musa daripada kaum Yahudi. Maka Nabi Muhammad kemudian berpuasa di hari asy syura bahkan memerintahkannya kepada ummat beliau.
Hadis diatas juga dikomentari imam as-Suyuthi yang disebutkan dalam kitab hasyiyah asy-Syarwani:
حاشية الشرواني ج 7 ص 423*
فيستفاد منه فعل الشكر الله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة ودفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة
Beliau berpendapat dari hadis diatas dapat diambil pelajaran bahwa disyariatkan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan-Nya pada hari tertentu, baik berupa pemberian nikmat maupun terhindarnya dari musibah. Rasa syukur tersebut bisa diulang setiap tahun pada hari yang serupa.
Berpegang pada dali-dalil diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya tradisi puasa weton tidaklah menyalahi ajaran Islam. Meskipun berasal dari praktik tirakat yang bersifat kultural, transformasinya melalui proses Islamisasi menunjukkan adanya ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang sejalan dengan syariat.
Dalam Islam, ekspresi syukur melalui ibadah di hari tertentu bukanlah hal yang asing, selama tidak disertai keyakinan yang menyelisihi akidah dan tetap berpijak pada prinsip-prinsip umum agama. Rasa syukur bisa kita jadikan sarana sebagai ibadah baik dengan mengekspresikannya melalui puasa, sedekah, atau bentuk ibadah lain yang tidak berlawanan arus dengan Islam.
oleh : Izzul_Alam
