Pada masa Dinasti Bani Umayyah berkuasa, hidup seorang ulama besar sekaligus ahli hadits yang riwayatnya kelak menjadi rujukan bagi para imam hadits, termasuk Imam Bukhari. Dialah Malik bin Dinar. Namun, Malik bin Dinar pada awalnya bukanlah sosok saleh seperti yang dikenal orang sekarang. Ia bekerja di lingkungan kerajaan, hidup berkecukupan, dan larut dalam kesenangan dunia. Minum khamar, pesta, dan pergaulan bebas pernah menjadi bagian dari hari-harinya.

Suatu hari, saat sedang mabuk, seorang teman menawarkan budak perempuan yang sangat cantik. Tanpa pikir panjang, ia membelinya. Tak lama hidup bersama, budak itu hamil dan melahirkan seorang anak.

Anak kecil ini menjadi cahaya di hidup Malik. Setiap kali ia hendak minum khamar, anak itu selalu merebut gelasnya dan menumpahkannya. Anehnya, Malik tidak pernah marah. Justru semakin sayang. Namun kebahagiaan itu tak lama. Anak kecil itu meninggal di usia balita, meninggalkan luka yang dalam di hati Malik.

Setelah kepergian si anak, luka pada hati Malik kian bertambah. Puncaknya, pada malam Nisfu Sya’ban, Malik tertidur dalam keadaan mabuk dan ia mengalami sebuah mimpi. Dalam mimpinya, ia melihat hari kiamat tiba. Tiba-tiba seekor ular besar mengejarnya hendak memangsanya. Ia lari tanpa tau arah tujuan dan ditengah kebingungannya, ia melihat seorang lelaki tua berpakaian putih dan meminta pertolongannya, namun lelaki itu terlalu lemah untuk menolongnya. Malik terus berlari hingga tiba di suatu tempat penuh anak-anak kecil bersama para malaikat. Di antara mereka, ia melihat anaknya.

Ketika ular itu hampir menerkamnya, sang anak berteriak “Demi Allah, ayahku!” sembari berlari dan memegang tangan ayahnya. Ketika sang ayah sudah aman disamping anaknya, ular itupun lenyap. Sang anak kemudian berkata sambil membaca ayat 16 surat Al-Hadid:

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ

Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an)

Sang ayah pun menangis sejadi-jadinya. Pada suatu kesempatan ia menanyakan tentang ular dan orang tua yang berpakaian putih itu kepada anaknya. Kemudian, anak itu menjelaskan, “Ular itu amal burukmu, Ayah. Sedang lelaki lemah itu amal baikmu yang kau abaikan.”

Malik terbangun dengan air mata. Ia menghancurkan seluruh botol khamarnya dan sejak malam itu, ia benar-benar bertaubat. Hidupnya berubah total, menjadi orang yang hanya ingin dekat dengan Allah.

Di balik kisahnya tersimpan banyak hikmah yang bisa dipetik. Di antaranya: taubat yang tulus mampu membuka pintu rahmat seluas-luasnya. Musibah dapat menjadi titik balik menuju kebaikan bila dihadapi dengan iman dan kelapangan hati, serta nasihat yang tulus—bahkan dari seorang anak dalam mimpi—dapat menjadi jalan hidayah menuju kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *