Hedonis adalah orang yang gemar mengejar kesenangan dan kenikmatan hidup terutama yang bersifat materi atau hiburan dan seringkali tanpa mempertimbangkan nilai moral, kesederhanaan, atau tanggung jawab. Di tengah gulungan ombak modernisasi, kesenangan dan kenikmatan duniawi, sering kali menjadi prioritas utama dari setiap individu zaman sekarang. Gaya hidup yang serba hedonis, yang selalu mengutamakan kepuasan yang sifatnya hanya sementara atau bahkan kepuasan yang dilandasi hanya karena gengsi semata. Saat ini menjadi populer di kalangan masyarakat secara umum terutama anak muda, padahal gaya hidup semacam itu memiliki tingkat bahaya yang besar bagi kehidupan seseorang, Terlebih gaya hidup tersebut merupakan larangan keras dalam agama Islam.

Tanpa menyudutkan masyarakat manapun, bahkan kami yang berstatus sebagai santri, yang kerap dihadapkan dengan ajaran Tasawwuf-pun, tak luput dari gaya hidup semacam ini, bahkan banyak yang mencari dalil-dalil terkait pembolehan hidup bergelimangan harta dengan berdalih bahwasanya “Zuhud itu bukan tentang harta, tapi zuhud itu tentang kekokohan hati dalam tidak adanya kecondongan hati dengan cinta dunia dan lebih mementingkan Akhirat”.

      Tak bisa dipungkiri, bahwa gaya hidup semacam ini memang memiliki dampak yang sangat berbahaya dalam keberlangsungan hidup kita, telah banyak dari orang-orang disekitar kita, mereka harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidupnya terlilit hutang, hanya karena mungkin cuman berambisi ingin membeli I Phone, ingin membeli baju-baju bermerek, mereka rela melakukan cara apapun untuk mendapatkan keinginan mereka, padahal secara fungsional apa yang mereka usahakan itu tidak terlalu memberikan nilai positif bagi mereka, hal ini hanya karena dorongan nafsu untuk memenuhi gengsi mereka dihadapan orang-orang disekitar.

      Kita boleh saja mengikuti perkembangan zaman, asalkan masih dalam porsi kita masing-masing. Lantas apa langkah yang tepat untuk kita lakukan dalam mengarungi derasnya arus modernisasi ini? Allah telah menyinggung dalam ayatnya yg berbunyi:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللّٰهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Imam Al-Qusyairi Dalam kitab Lathaifnya memberikan penjelasan bahwa takwa pada ayat tersebut adalah pembebasan diri dari nafsu dan keinginan serta kepentingan-kepentingan duniawi. Maka hamba yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling jauh dari nafsunya dan paling dekat dengan Allah Ta’ala. Artinya, dalam keterangan Imam Al-Qusyairi ini menjadi jelas bahwa hedonismemerupakan gaya hidup yang sangat bertentangan dengan prinsip takwa itu sendiri, yaitu melawan dan menekan hawa nafsu sampai ke titik seseorang benar-benar bisa menyembah kepada Allah tanpa mengharap apapun selain ridha-Nya karena itu merupakan tujuan diciptakannya manusia. Allah Ta’ala  juga berfirman:                                

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Ad-dzariyat: 56).

Melawan gaya hidup hedonis tidaklah mudah, terlebih bagi saudara-saudara kita yang hidup di perkotaan. Hal ini memerlukan proses yang cukup panjang dan kehati-hatian yang intens. Namun demikian, ada dua cara yang dicontohkan oleh Baginda nabi Muhammad SAW dalam menekan dan melawan hedonisme.

Pertama, menumbuhkan sifat qanaah. Sebagaimana Baginda nabi mengajarkan tentang kekayaan hati lebih utama daripada sekadar kekayaan duniawi. Beliau bersabda:     

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hal ini bisa membuat seseorang lebih tenang dalam menghadapi kehidupan. Ia tidak akan selalu merasa kurang atau iri terhadap orang lain, melainkan menikmati dan mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah. Dengan qanaah, kita juga lebih mudah berbagi dengan sesama, karena tidak ada rasa takut kehilangan. Qanaah mengajarkan kita untuk menghargai apa yang saat ini kita miliki dan tidak selalu menginginkan lebih. Dengan demikian, kita dapat mengurangi keinginan untuk memiliki lebih banyak barang atau kekayaan yang tidak perlu.

    Kedua, untuk menekan gaya hedonis kita harus memperkuat rasa syukur kita. Syukur merupakan pengikat kenikmatan yang telah didapatkan sekaligus menjadi alat untuk mengupayakan nikmat yang belum didapatkan. Sebagaimana dikatakan sebagian ulama dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah jilid 1 halaman 313:  

الشُّكْرُ قَيْدُ الْمَوْجُودِ وَصَيْدُ الْمَفْقُودِ

“Syukur adalah pengikat nikmat yang ada dan menjadi alat berburu terhadap nikmat yang belum didapatkan.”

Kalimat ini menekankan betapa luar biasanya pengaruh syukur terhadap apa yang telah kita dapatkan, khususnya karunia berupa Iman, Islam, kesehatan, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *