Belajar Menjaga Hati Di Tengah Arus Media Sosial
Setiap membuka smartphone kita disuguhkan dengan berbagai macam konten, melihat berbagai momen kehidupan orang lain. Tanpa disadari kita pun mengikutinya, mulai dari moment receh, gaya hidup, hingga pencapaian yang sebenarnya belum sepenuhnya kita capai. Segala hal dikemas dengan begitu menarik, begitu manipulatif.
Sekilas, semua itu tampak biasa. Namun, tanpa disadari, apa yang terus-menerus kita lihat perlahan membentuk cara pandang kita terhadap kehidupan. Kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang sedang ramai diperlihatkan orang lain. Kita merasa harus ikut merasakan pengalaman yang sama, memiliki pencapaian yang sama, bahkan menjalani gaya hidup yang sama.
Fenomena ini tidak sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menggiring kita pada pertaruhan rasionalitas hati. Sayangnya, hati manusia memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Sedikit demi sedikit muncul suara hati, “Kok isok arek kae wes teko kono, aku sek teko kene?”
Dari sinilah rasa syukur mulai terkikis, digantikan oleh perasaan kurang, iri, bahkan kecewa terhadap takdir yang Allah tetapkan.
Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman yang sangat relevan dengan keadaan ini. Beliau bersabda,
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Muslim)
hadis ini bukan membatasi kita untuk berhenti berusaha menjadi baik. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk terus berkembang. Akan tetapi perkembangan yang lahir dari niat memperbaiki diri, bukan dari kegelisahan karena terus membandingkan hidup dengan orang lain.
Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitabnya (al-hikam) juga memberikan nasehat yang sangat relevan :
اجتهادُكَ فيما ضُمِنَ لك، وتقصيرُكَ فيما طُلِبَ منك، دليلٌ على انطماسِ البصيرة
“Kesungguhanmu mengejar sesuatu yang sudah dijamin untukmu, sementara engkau lalai terhadap apa yang dituntut darimu, merupakan tanda tertutupnya mata hati.”
kita harus yakin, setiap manusia memiliki jalan yang telah Allah tetapkan. Tidak semua orang diuji dengan keadaan yang sama, tidak juga diberi nikmat dalam waktu yang sama. Karena itu, sibuk mengawasi perjalanan orang lain hanya akan membuat kita lalai menjalani perjalanan yang Allah amanahkan kepada diri sendiri.
Dalam agama Islam, sikap seperti ini dikenal dengan istilah qana’ah, yaitu menerima pembagian Allah dengan lapang dada tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar. Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menjaga hati agar tidak diperbudak oleh keinginan yang tidak pernah selesai. Nasihat ini begitu penting pada zaman ketika perhatian menjadi tolak ukur keberhasilan.
Semakin lama kita menatap kehidupan orang lain, semakin sedikit waktu yang kita gunakan untuk memperbaiki kehidupan sendiri.
Barangkali, yang perlu kita batasi bukan hanya durasi membuka media sosial, melainkan juga kebiasaan membandingkan takdir. Sebab yang Allah hisab kelak bukanlah seberapa banyak pencapaian orang lain yang kita lihat, tetapi bagaimana kita mensyukuri nikmat yang telah Allah titipkan kepada kita.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mempertontonkan kehidupan, seorang mukmin justru dituntut untuk lebih sering menoleh ke dalam dirinya sendiri. Sebab hati yang dipenuhi syukur akan selalu merasa cukup, meskipun tidak memiliki segala yang dimiliki orang lain. Dan hati seperti itulah yang oleh para ulama disebut sebagai salah satu nikmat terbesar yang tidak dapat dibeli oleh dunia.
Media sosial hanyalah alat, ia bisa menjadi jalan dakwah, tetapi juga pintu penyakit hati jika tanpa kendali. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya kecakapan digital, melainkan juga kebersihan hati. Sebab, ketika layar menjadi cermin kehidupan, jangan biarkan ia lebih banyak memantulkan kehidupan orang lain daripada memperlihatkan keadaan hati kita sendiri.
